Senin, 02 Februari 2009

SamBiL BerObat LiBurAn (refresing) ke MALAKA

Melaka, Wisata Lara dan Budaya

KOTA TUA YANG PANDAI MENJUAL JASA

Melaka adalah sebuah kota tua di Malaysia, terletak di tepi Selat Malaka. Geografinya berhadapan dengan provinsi Riau, dan berdekatan dengan Sumatera Utara. Meskipun kota tua, Melaka memiliki kelebihan yang jarang dimiliki kota-kota di Indonesia. Apa itu? Menangguk devisa dari orang-orang sakit yang datang berobat.

Selain wisata ’sakit’, Melaka juga menjual wisata budaya yang cukup menarik. Sebagai kota tua, Melaka memiliki sejarah panjang, dan masih banyak dijumpai artefak-artefak yang bernilai historis. Melaka pernah dikuasai oleh Portugis, Belanda, dan juga Inggris, sebelum akhirnya merdeka dan menjadi bagian dari negara Malaysia.

Dari bandar udara internasional KLIA di Kuala Lumpur, kami bertiga (saya, suami dan seorang staf) langsung meluncur ke Melaka dengan mobil jemputan. Perjalanan dari Kuala Lumpur ke Melaka memakan waktu sekitar 2,5 jam. Sebelum tiba di Melaka, kami singgah di Negeri Sembilan, sebuah negara bagian Malaysia yang memiliki kemiripan budaya dengan Minangkabau.

Oh ya, sebelumnya mohon dimaafkan, hampir semua foto disini memuat wajah saya. Maklum, pada waktu itu (2005) saya belum tertarik memotret, masih suka dipotret (halah!) dan beranggapan bahwa yang namanya foto ya harus ada orangnya (pendapat yang sungguh naif dan narsis pol … hehehe).

img_1825

Teratak Perpatih, salah satu bangunan di Negeri Sembilan yang memiliki bentuk serupa bangunan di Minangkabau

Di Melaka terdapat beberapa rumah sakit bagus, salah satunya adalah Mahkota Medical Centre (MMC). MMC memberikan pelayanan kesehatan yang sangat baik. Dan tahukah anda, bahwa sekitar 80% pasien rumah sakit di Melaka adalah warga negara Indonesia yang berasal dari Riau, Medan, Jambi, dan kota-kota di sekitarnya? Dari pada ke Jakarta, mereka lebih memilih berobat ke Melaka. Selain lebih dekat, pelayanannya juga (konon) lebih bagus. Biaya transportasi ke Melaka juga cukup murah, karena pemilik KTP Riau dan Sumatera Utara tidak perlu membayar fiskal untuk masuk ke Malaysia. Perjalanan dari Pekanbaru (Riau) ke Melaka bisa ditempuh dengan pesawat terbang selama 30 menit, atau ferry selama sekitar tiga jam. Bandingkan dengan pergi ke Jakarta, yang dengan pesawat udara membutuhkan waktu 1,5 jam.

Sesungguhnya, kami pergi ke Melaka karena ‘terhasut’ (halah!) untuk melakukan medical check up di MMC. Pada waktu itu kesehatan suami saya sedang kurang bagus, dan kebetulan memang ingin melihat kota yang kaya budaya ini, sehingga pergilah kami ke sana. Reservasi kami lakukan dari Indonesia via internet dan telepon. Kami mengambil paket general check up termasuk menginap dua malam di hotel Mahkota yang dimiliki oleh MMC. Begitu banyaknya pasien dari Indonesia, sehingga MMC membangun hotel di dekat rumah sakit untuk menginapkan keluarga pasien, dan pasien yang tidak perlu opname. Pihak MMC bahkan mengatur penjemputan dari bandara KLIA, dan menyediakan mobil antar jemput gratis dari hotel ke rumah sakit. Sampai segitunya mereka melayani pasien!

mahkota-medical-centre

Mahkota Medical Centre, rumah sakit dengan fasilitas dan pelayanan yang mengutamakan kepentingan pasien


img_19331

Kolam renang dan salah satu sisi bangunan hotel Mahkota

Kami tiba di Melaka lewat tengah hari, langsung masuk ke hotel. Hotel Mahkota cukup bagus, setara dengan hotel bintang empat. Karena jadwal check up kami baru keesokan harinya, maka kami menghabiskan setengah hari itu dengan jalan-jalan ke beberapa peninggalan sejarah dan budaya.

Peninggalan tertua yang ada di Melaka adalah Pintu Gerbang Santiago atau Porto de Santiago. Pintu Gerbang Santiago merupakan salah satu dari empat pintu masuk ke kota Melaka. Pintu Gerbang ini dibangun oleh tentara Portugis yang menaklukkan Melaka pada tahun 1511 dibawah pimpinan Alfonso de Albuquerque. Tentara Portugis membangun benteng dan pintu gerbang untuk melindungi Melaka dari serangan Sultan Mahmud, juga gempuran dari kesultanan Aceh dan Johor. Benteng selebar 3 meter ini dibangun dengan mengerahkan tenaga kerja paksa. Untuk mengawasi musuh yang datang menyerang, dibangun menara pengintai setinggi 40 meter di bagian barat daya benteng.

img_18392

Sisa-sisa Pintu Gerbang Santiago, saat ini dijadikan cagar budaya yang banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun manca negara

Di sebelah kanan (kalau kita menghadap Pintu Gerbang Santiago) terdapat gedung bersejarah tempat dideklarasikannya kemerdekaan Melaka, disebut Memorial Pengisytiharan Kemerdekaan atau Proclamatic of Independence Memorial. Gedung ini masih terawat dengan baik, tampak megah dengan jajaran bendera negara-negara bagian Malaysia.

img_18361

Memorial Pengisytiharan Kemerdekaan, terletak di samping Pintu Gerbang Santiago

Di belakang Pintu Gerbang Santiago terdapat Istana Kesultanan Melaka yang juga sudah dijadikan cagar budaya. Dahulu istana ini terdapat di dalam benteng, tetapi dinding benteng dihancurkan oleh tentara Inggris pimpinan William Farquhar pada tahun 1807. Sir Stamford Raffles dan Lord Minto berusaha mencegah penghancuran ini, tetapi yang berhasil diselamatkan hanya Pintu Gerbang Santiago. Sayang pada saat itu istana ditutup karena hari sudah sore, sehingga kami tidak bisa masuk untuk melihat isinya.

img_18501

Pintu pagar Istana Kesultanan Melaka tertutup rapat, sehingga kami tidak bisa masuk dan melihat isinya

Jika kita masuk melalui Pintu Gerbang Santiago, kita bisa naik ke bukit St Paul. Di puncak bukit ini terdapat gereja kuno dan patung orang suci St Paul. Saya menemani Evi, staf kami yang beragama Katholik, naik hingga ke gereja di puncak bukit. Gereja ini sudah sangat tua, dan sudah tidak dipergunakan lagi. Meskipun jalan naik sudah dibuat dengan tangga keramik yang rapi, mendaki bukit kecil itu cukup membuat napas kami kembang kempis … hosh … hosh … Saya sungguh iri melihat seekor kucing yang berlari-lari dengan santai menaiki tangga bersama kami (ya iyalah, dia kan kucing … )

Di kawasan Pintu Gerbang Santiago juga terdapat Muzium Kecantikan, yang sayang seribu sayang, juga sudah tutup. Bangunan museum ini, seperti juga bangunan-bangunan lain disitu, dicat dengan warna merah bata yang menyolok. Di pelataran konblok yang menghubungkan Memorial Pengisytiharan Kemerdekaan, Pintu Gerbang Santiago, Muzium Kecantikan, dan bangunan-bangunan lain disitu, becak-becak Melaka melaju dengan leluasa. Becak-becak ini sangat meriah karena dihias dengan bunga plastik warna-warni di sekujur badannya. Lagu-lagu diputar melalui tape recorder becak yang disetel keras-keras. Wah, kalau penumpang mau ngobrol, mereka mesti bersaing keras melawan suara musik dan lagu dari tape recorder becak!

becak-melaka Becak Melaka yang penuh bunga aneka warna

img_18621

Muzium Kecantikan, Museum of Enduring Beauty. Apa gerangan isinya?

Melaka adalah kota museum. Tidak jauh dari Muzium Kecantikan, terdapat Muzium Kapal. Bangunan ini berupa kapal asli, yang sudah dimodifikasi sehingga pengunjung bisa masuk ke dalamnya, serupa dengan Monkasel (Monumen Kapal Selam) yang ada di Surabaya. Bedanya, yang terdapat di Melaka ini adalah kapal terapung, sedangkan yang ada di Surabaya adalah kapal selam Pasopati yang pernah dipakai TNI AL dalam menjaga kedaulatan negara.

img_1885

Dalam keremangan senja, Muzium Kapal ini tampak seram seperti kapal hantu …

Esoknya, saya dan suami menjalani medical check up di MMC. Selain pelayanannya yang cekatan dan profesional, sebenarnya peralatan yang dimiliki rumah sakit ini tidak terlalu berbeda dengan rumah sakit di Indonesia. Kebetulan beberapa minggu sebelumnya suami saya melakukan general check up di sebuah rumah sakit swasta terbesar di Yogya, sehingga saya bisa membandingkan fasilitas medis yang dimiliki kedua rumah sakit ini. Check up di MMC ini diinginkan suami saya sebagai pembanding check up di Yogya, dan hasilnya ternyata tidak terlalu jauh berbeda. Oleh sebab itu, bagi yang belum ‘terlanjur’, nggak usahlah jauh-jauh pergi ke Melaka!

Yang sering kali menggelikan selama berada di Melaka, adalah perbedaan bahasa Malaysia dengan bahasa Indonesia. Pada saat difoto rontgen, petugas foto meminjami saya karet gelang untuk mengikat rambut, agar tidak mengganggu pemotretan. Ketika selesai, saya langsung keluar ruangan, lupa tidak mengembalikan karet pengikat rambut. Eh, siapa sangka petugas itu berteriak-teriak “Getah, getah!” sambil menunjuk ke kepala saya. Saya kebingungan, nggak ‘ngeh’ apa maksudnya. Baru setelah ia memegang-megang rambutnya, saya ‘mudheng’ bahwa yang dimaksud ‘getah’ itu adalah karet gelang yang dipinjamkannya. Whoalaaah …. cuma karet gelang saja kok ya diminta kembali lho. Di rumah saya punya sebakul, Encik!

Ah, Melaka kota tua, Melaka yang pandai menjual wisata lara …

img_19121

Pemandangan sebagian kota Melaka dari kamar hotel Mahkota

4 komentar:

  1. Terima kasih atas sharing pengalaman nya di Mahkota ^^
    Just share, FYI mahkota memiliki puluhan kantor perwakilan di Indonesia, kami bisa membantu bapak/Ibu sekalian untuk mengaturkan keberangkatan, janji temu dokter, informasi dokter dan perawatan, akomodasi dan penginapan selama di Mahkota. Untuk informasi lebih jelas dapat menghubungi kami di 0617333666 (Kantor Perwakilan Medan). Segala pelayanan dan informasi dari kami adalah gratis / tidak dipungut biaya karena kami merupakan Representative resmi yang dibuka oleh Mahkota. Terima Kasih

    BalasHapus
  2. Saya Toni Tgl 6 berangkat ke KL dari jkt jam 08.35 air asia rencana mau berobat ke mahkota apakah bisa dijemput di airport KL, untuk keterangan lebih lanjut hub saya ke email : palletsimas@yahoo.co.id

    BalasHapus
  3. atau email ke gledia@gmail.com

    BalasHapus
  4. Selamat sore, perkenalkan saya danang Sefdyanto perwakilan Mahkota Medical Centre Surabaya Rep Office. kami adalah salah satu perwakilan di jawa timur. kami siap membantu dan memberikan:
    1. informasi seputar mahkota dan malaca malaysia
    2. informasi fasilitas & kesehatan
    3. Book dokter dan arange perjalanan sampai akomodasi dengan Company Rate kami ( sehingga lebih murah )
    3. Second opinion langsung dari Dokter kami.
    Semua pelayanan ini FREE of Charge, walaupun hanya untuk bertanya atau sekedar second opinion dari Dokter lain kita siap membantu .Jika Membutuhkan infomasi tentang Mahkota Medical Centre Melaka Malaysia, silahkan hubungi kantor perwakilan kami....
    Surabaya Representative Office
    Mahkota Medical Centre Melaka Malaysia
    Jl. Barata Jaya XIX / 31C
    Surabaya 60131 - Indonesia.
    WA danang : +6281 331777697
    Line tasya : +6281 4026 2166
    Phone firda: +6283 8300 28050
    Email : mmcsurabayaoffice@gmail.com
    Fb : https://www.facebook.com/mmc.surabaya
    http://mahkotamedicalcentresurabayaoffice.blogspot.co.id/

    BalasHapus